Kamis, 01 Mei 2008

istriku berjuang

Tanggal 13 Maret lalu, anakku yang pertama ulang tahun ke 6. Pada tanggal yang sama, 13 Maret!!!, anakku yang kedua berulang tahun yang pertama.

Senang dan bahagia sekali bercanda dan mendengar mereka tertawa...
Bangga juga ketika mereka belajar banyak hal.

Sedihnya, ketika mereka menghendaki sesuatu tetapi tidak aku pahami. apalgi ketika mereka sakit. Hanya bisa nangis dan menangis.

Berbeda dengan sang Kakak, anakku yang kedua kalau sakit selalu menangis. Pernah dia menangis semalaman.

Apa yang aku lakukan?
Gugup,.....
Sedih,.....
Tapi tidak berbuat sesuatu.
Untuk anakku, aku hanya menunggu perintah istriku, ibunya.

Ketika panas badannya, Sementara ibunya harus berupaya menurunkan suhu panas badannya. Semalaman, sampai pagi, aku hanya memanggul rasa kasihan, tanpa bisa berbuat lebih dari sekedar menemani.

Paginya, aku terkapar, tertidur karena kelelahan. Ketika ada sedikit tenaga, kadang aku melakukan pekerjaan penting yang sebenarnya tidak mendesak. Mungkin juga karena ketidakberdayaanku menghadapi anak sakit....

Tapi tidak demikian istriku, ibu dari anak-anakku. Dia tidak terkapar, tidak tertidur karena dia masih harus mengurusi anakku. Ketika anakku bisa tidur, istriku memanfaatkan waktu untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lainnya,...

Ketika aku telah terbangun lagi, ketika aku menuliskan tulisan ini, dia masih harus mengurusi anakku. Aku tahu dia sangat lelah, sangat capai.....

aku tidak bisa berkata apa-apa, kecuali hanya menuliskan ini. Menuliskan untuk mengabarkan kepada semua orang, jangan menyepelekan seorang ibu, karena dia mengorbankan dirinya demi anaknya. Aku saja, yang sering berkoar-koar tentang gender, tidak bisa berbuat yang lebih dari hanya sekedar membantu, menunggu dan sebentar menggendong. Selebihnya, aku tidak bisa berbuat banyak.

Aku jadi teringat kepada ibuku almarhumah, karena suatu hari ketika aku masih kecil dulu, aku mungkin pernah demikian, dan ibuku bersabar sehingga aku bisa hidup begini sampai hari ini. Bila demikian, maafkanlah aku ibu, karena ketika aku dewasa, aku tidak bisa membalas semua yang telah ibu lakukan. Semoga ibu disana bisa mendengar jeritan hatiku, dan ibu semoga bahagia karena --walau terlambat-- aku akhinya bisa menyadarinya.

Kepada ibu anak-anakku, yakni istriku, aku minta maaf karena aku tidak bisa berbuat banyak. Aku berdoa semoga yang istriku lakukan, akan menjadi investasi bagi masa depan generasi bangsa ini. Memang kecil, kelihatannya, tapi sesungguhnyalah...yang kecil itu adalah awal dari pekerjaan besar membangun bangsa ini.

Salam sayangku untukmu, ...
semoga kita bisa melewati masa-masa yang begini...
dan kita songsong esok hari lebih cerah dari hari ini.

Tidak ada komentar: